Wednesday, May 19, 2010

Pramuka Tanpa “Busana”


Saat Pramuka di Indonesia hanya tentang perkemahan dan nyanyian, “UP” membuat Pramuka bersinar di antara koleksi badges dan tepukan kebanggaan. Sebuah keadaan yang membuat saya iri setengah mati karena dulu tepukan hanya dapat saya rasakan saat menyanyikan lagu-lagu Pramuka. Seperti “Tepuk Gareng”, “Tepuk Petruk”, hingga tepuk-tepuk yang bernama makanan seperti “Tepuk Singkong” bahkan “Tepuk Sambal” selain tepuk wajib pramuka itu sendiri.

“UP” adalah salah satu film keren yang saya tonton hingga 4 kali. Selain karena gambarnya yang begitu mengagumkan juga karena ada Russel, seorang anak berumur sekitar 7-9 tahun yang sangat pemberani. Dengan ransel dan badges miliknya, ia terlihat seperti petualang sejati yang siap beraksi dengan teriakan khasnya, “Rwarr..rwarr…rwarr”. Bentuk tubuhnya yang tambun tak menghalangi jalannya untuk bergerak lentur. Sikap apa adanya yang ia tunjukkan mampu membuat saya tersenyum geli sebagai rasa maklum saya karena usianya yang masih sangat muda. Apalagi ketika dia mengatakan “Snipe”, mulutnya berubah lucu nan lugu. Russel, saya akui sukses membuat saya jatuh cinta padanya, jadi maaf kalau saya hanya menceritakan dirinya dalam tulisan ini. Namun, bukan berarti saya tak menyukai tokoh lainnya, hanya saja Russel lah yang mampu mengingatkan saya tentang arti menjadi seorang “pahlawan”.
Russel, bagi saya adalah satu contoh bagaimana pendidikan moral yang diajarkan di luar sekolah dapat menjadi bekal yang membuatnya berhasil mendapatkan tepukan kebanggaan dari keluarga, teman,dan orang-orang sekitarnya tanpa membuatnya menjadi sebuah kewajiban yang menyesakkan. Ia, menurut saya adalah seorang pramuka sejati dan seharusnya begitulah pendidikan ke-pramuka-an yang diajarkan kepada pemuda-pemudi Indonesia. Pantang menyerah, berani, mandiri, jujur, cinta damai, dan sikap-sikap “pahlawan” lainnya.

Masih terasa oleh saya bagaimana nasib pendidikan di negara ini. Sebagian besar generasi muda Indonesia mulai kehilangan sikap-sikap “pahlawan” yang sebenarnya diperlukan oleh bangsa ini untuk menyelamatkannya dari jurang degradasi mental. Pendidikan formal di sekolah kemudian menjadi benar-benar hanya formalitas belaka untuk bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya. Sehingga, siswa-siswa yang datang dan duduk di bangku sekolah tak benar-benar meresapi apa yang mereka dapat dan bagaimana seharusnya mereka mempergunakan pengetahuan itu bagi orang lain. Jadi, tak kaget jika banyak yang salah mengartikan kegunaan pengetahuan adalah untuk mendapatkan nilai bagus atau sekedar untuk “membantu” teman lain saat ujian (yang sayangnya sering diajarkan oleh gurunya sendiri.ckckck) daripada untuk menjadi pemuda Indonesia sejati.

Pramuka bagi saya adalah salah satu kegiatan yang sebenarnya dapat digunakan untuk membantu anak-anak untuk mengerti tentang apa sebenarnya arti dari menjadi pemuda Indonesia. Untuk menjadi “pahlawan”. Sebuah kegiatan yang meski berjalan di luar sekolah namun mampu memberikan pendidikan yang lebih penting dari pendidikan formal itu sendiri. Pendidikan tentang kejujuran, kebersamaan hingga cinta damai dalam setiap janji-janjinya sehingga anak-anak sadar bahwa janji adalah sikap. Pendidikan tentang kedisiplinan sekaligus keteraturan dalam pelajaran baris-berbarisnya. Pendidikan tentang menciptakan sebuah senyuman dalam setiap nyanyiannya. Dan pendidikan yang mengajarkan untuk bangga pada negaranya dalam setiap langkah dan atribut seragamnya (terutama pada dasi yang sangat merah putih).

Dulu saat saya masih SD, saya tak terlalu getol mengikuti pramuka. Hal ini murni karena kesalahan kepala sekolah saya yang mewajibkan Pramuka untuk diikuti oleh semua siswa dan membuat saya berkeyakinan bahwa Pramuka adalah kegiatan yang membosankan hingga sang Kepsek harus membuatnya menjadi kegiatan wajib (bahkan syarat kelulusan!!). Status wajib inipun terasa sedikit dipaksakan karena akhirnya pada hari Jumat dan Sabtu saya harus menggunakan baju khas pramuka berwarna coklat dengan dasi merah putih ditambah dengan topi rajut, sebagai perwujudan status saya sebagai anak Pramuka. O,ya ditambah dengan pisau karatan yang tergantung di sabuk kulit dimana lebih sering digunakan sebagai pisau dapur saat bermain masak-masakan daripada sebagai alat pemotong tali saat membuat tandu. Saya pun selalu datang pada hari Sabtu sore dengan perasaan malas luar biasa hanya agar buku Siaga saya penuh dengan contrengan “hadir” dan berhak untuk mendapatkan buku Penggalang. Buku yang dulu lupa diberikan oleh kakak pembina sehingga saya praktis terus menjadi Siaga saat itu dan tiba-tiba berubah menjadi Penggalang saat SMP tanpa ada pemberitahuan dan upacara pengangkatan.

Pada zaman itu, saya menganggap Pramuka hanya sebagai pelengkap kegiatan di akhir minggu. Kegiatan yang berkutat dengan nyanyian plus tepukan khas, perkemahan, baris-berbaris, dan ritual lainnya. Sebuah kegiatan yang mulai saya lupakan keberadaannya hingga saya sama sekali tak memikirkan tentang Pramuka lagi meski adik saya masih rajin menggunakan baju cokelatnya di hari Jumat dan Sabtu. Hal ini semua terjadi karena mereka hanya mengajak saya menikmati kegiatan Pramuka tanpa menanamkan dengan pasti apa arti sebenarnya menjadi Pramuka dan apa yang harus saya lakukan dengan predikat anak Pramuka bagi negeri ini. Namun itu semua berubah saat saya menonton “UP” dan melihat Russel sebagai “A Wilderness Explorer” dengan deretan badges bordir keren di badannya. Saya lalu terobsesi dengan kegiatan ke-Pramuka-an. Saat ini, saya bahkan berharap mempunyai ransel seberat dan seramai milik Russel untuk menemani saya dalam petualangan saya. Petualangan untuk belajar tentang banyak hal dan kemudian menggunakannya untuk menolong orang sekitar. Pengetahuan yang tidak hanya berhenti pada kegiatan perkemahan atau Jambore nasional.

Jika saja Pramuka di Indonesia dapat menciptakan generasi mental seperti Russel, saya tentu tak akan malas luar biasa untuk menghadiri pertemuan setiap Sabtu sore sambil membawa buku saku saya dan mulai bernyanyi lagu Pramuka dengan bangga karena akhirnya badges Pramuka saya tak hanya sekedar busana.
Pramuka…Pramuka..Praja Muda Karana..Yeee!!!!!!!!plok..plok..plok..plok…

No comments:

Post a Comment

komentar sangat dibutuhkan untuk menunjukkan bahwa tulisan saya ini baik-baik saja atau malah menyebabkan bencana. jadi silahkan menilai.:-)